Dikatakan dalam buku dan tayangan serial film tersebut terungkap berbagai tantangan dan problem yang dihadapi rakom di NTB untuk terus bertahan dan berkelanjutan. Banyak radio komunitas yang tidak berkembang: hidup segan,mati tak mau. Sebagian radio komunitas tak lagi bersiaran secara rutin karena keterbatasan sumberdaya dan biaya operasional. Sebagian lainnya bahkan tak lagi mengudara karena peralatan siar yang rusak, tenaga penyiar yang berpindah profesi, atau tidak lagi mendapatkan dukungan dari komunitas.
Selainitu, KPP (Kupon Pilihan Pendengar) tidak bisa lagi dijadikan sebagai sumber pendanaan seiring masuknya teknologi handphone (HP). Fungsi KPP sebagai media untuk berkirim salam atau permintaan lagu digantikan oleh SMS dan rakom kehilangan sumber penghasilan utamanya.
Namun, sebagian rakom lainnya mencoba untuk terus bertahan dan melayani komunitas. Hasil studi dan dokumentasi Sekolah Fundraising PIRACdan JRKI menunjukkan upaya kreatif dari para pengelola rakom untuk mengakses beragam sumber pendanaan darikomunitas, usaha komunitas/perusahaan lokal, pemerintah setempat dan berbagai yayasan social.
Bentuk sumbangan atau dukungan yang diterima sangat beragam, mulai dari peralatan siaran, konsumsi berupa minuman dan makanan, pembayaran rekening listrik hingga bantuan pendanaan. Rakom juga bertahan karena ditopang oleh pengelola dan penyiar yang bekerja secara volunteer alias tidak dibayar.
Menurut Hamid, sumber-sumber pendanaan itu digalang dengan strategi on air fundraising (menggalang dukungan dan sumberdaya dengan menggunakan media siaran) danoff air fundraising (tidak menggunakan media siaran). Beberapa strategi on air yang dilakukan adalah menjual KPP (Kupon pilihan pendengar), karaokean, menayangkan ILM (Iklan Layanan masyarakat), menjual air time, menjual paket siaran langsung (live), atau menjual talk show radio kepada pemda/dinas, perusahaan lokal, partai politik maupun LSM dan lembaga donor. Sementara strategi off air fundraising dilakukan dengan mengembangkan skema iuran anggota, penyelenggaraan event, serta pengembangan unit usaha.
Beberapa rakom yang distudi mengembangkan unit usaha yang berkaitan dengan aktivitas siaran (seperti pembuatan jingle iklan, pembuatan program radio, kursus penyiar, kursus jusnalistik, dll ) maupun tidak berkaitan dengan dunia penyiaran (penjualan alatelektronik, kursus komputer, penjualan sembako, penjualan voucher, dll).
Rakom juga mendukung pengembangan usaha yang dilakukan oleh pengelola atau penyiarnya yang keuntungannya disisihkan untuk membiayai operasional rakom.
Upaya rakom untuk bertahan dan berkelanjutan ini banyak menemui kendala dan tantangan, khususnya yang berkaitan dengan kebijakan penyiaran. Pengurusan ijin yang rumit dan panjang membuat rakom tidak bisa bekerjasama dengan instansi pemerintah ataupun perusahaan yang membutuhkan legalitas rakom.
Sejumlah usulan serta rekomendasi disampaikan oleh peserta sebagai upaya untuk mendukung upaya fundraising dan keberlanjutan rakom di masa mendatang. Kebijakan penyiaran diharapkan bisa lebih mempermudah dan memperpendek mekanisme perijinan, serta memberi kelonggaran kepada rakom untuk menggalang dukungan dari usaha komunitas melalui iklan usaha komunitas. Para pengelola rakom sendiri diharapkan bisa meningkatkan kapasitas dan skill penunjang bagi usaha fundraising dan entrepreneurship untuk keberlanjutan rakom. Selain itu, pendampingan dan berbagi pengalaman dan pengetahuan diantara pengelola rakom dalam berfundraising juga diperlukan untuk saling memotivasi untuk bergerak dan berkembang bersama-sama.
0 komentar:
Posting Komentar