BKL MEDIA. Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 22 September 2012

Kesederhanaan bukan berarti memiskinkan diri

Lalu Mara Satria Wangsa, menulis statusnya dalam jejaring sosial Facebooknya pagi ini. "Kesederhanaan bukanlah berarti kita harus memiskinkan diri, melainkan melatih diri peka terhadap kondisi sekitar. Karena kesederhanaan dapat diterima oleh semua kalangan, sedang tampil dengan kemewahan hanya karena ingin diakui oleh segelintir orang hanya membuat diri letih dan tertekan...

Apa yang ditulis Lalu Mara asal Lombok itu sesuai dengan tuntunan dan petunju Nabi Muhammad SAW.
Anas bin Malik berkata, "Saya masuk menemui Rasulullah dan ia sedang berbaring miring di atas tikar pandan kecil yang bersulam, dan di bawah kepalanya bantal dari kulit berisikan rumput kering. Lalu beberapa orang dari sahabatnya datang diantaranya adalah Umar bin Khathtab, Rasulullah pun bangkit menggeser tubuhnya yang sedang terbuka bajunya. Umar bin Khaththab tak sanggup menahan tangisnya ketika melihat bentuk sulaman tikar yang membekas di tubuh bagian samping Rasulullah saw.

Rasulullah saw bertanya, "Mengapa engkau menangis, Umar?
Umar menjawab, "Demi Allah, saya tidak menangis kecuali tahu bahwa engkau lebih Allah muliakan daripada Kisra dan Qaishr. Mereka hidup dalam kesenangan, sementara engkau, Rasulullah saw, di tempat yang saya lihat ?"

Rasulullah saw bersabda, "Apakah engkau tidak rela dunia menjadi milik mereka dan akhirat untuk kita?"
Umar menjawab, "Ya, aku rela."
Rasulullah saw bersabda, "Begitulah yang benar"

Jujur..Membaca apapun tentang kisah baginda Nabi Muhamad SAW, hati siapa yang tidak tersentuh. Mungkin banyak orang bilang tidak ada manusia sempurna di dunia ini, bagi saya, Ada. Muhammad SAW.
Beliau seorang pemimpin Besar, penutup semua Nabi, Beliau datang dengan Islam sebagai rahmat semesta alam.

Beliau pribadi yang sederhana dan Mulia, hidupnya pun tidak bermewah2an. saya jadi sering membandingkan Beliau dengan Umat2nya jaman sekarang yang kaya raya, tidur berselimut kain sutra..mungkin, kemana2 naik jet pribadi, makan direstoran mewah.., Tapi mungkin sering 'lupa' punya saudara seiman yang kelaparan di sebelah rumahnya. Duhhhh.... saya juga malu. Padahal junjungan kita Nabi Muhamad yang kelak kita dambakan syafaatnya di yaumil akhir, hidupnya sederhana.

0 komentar:

Posting Komentar